Etika komunikasi megawati dalam forum PDI-P HUT-50

 

Nama : Rizki Arif

NIM : 2110409008




 

Etika komunikasi megawati dalam forum PDI-P HUT-50

Sempat viral di media sosial berita tentang megawati dan jokowi pada HUT-50 partai demokrasi indonesia perjuangan (PDI-P), yang mana pada waktu acara tersebut di hadiri oleh semua anggota-anggota partai demokrasi perjuangan indonesia (PDI-P), salah satunya presiden RI joko widodo.

Yang di acara tersebut megawati membahas berbagai hal. Mulai dari praktik korupsi kepala daerah, kader yang jarang turun ke masyarakat, sampai kepada presiden RI joko widodo.

Di acara itu mengingatkan kepada seluruh anggota Partai demokrasi indonesia perjuangan (PDI-P), betapa penting nya memberi dukungan kepada jokowi selama ini sambil menyiratkan bahwa tanpa partai demokrasi indonesia perjuangan (PDI-P) nasib jokowi tidak akan seperti sekarang ini.

Di lanjut kan dengan perkataan megawati “pak jokowi itu ya ngono loh, mentang-mentang. Padahal pak jokowi, kalau enggak ada PDI Perjuangan, duuh kasihan dah”.

Nah dari perkataan megawati tadi lah mulai muncul anggapan-anggapan dari kalangan akademisi, yaitu :

melihat Megawati unjuk kekuasaan di hadapan Jokowi seperti dikatakan pakar hukum tata negara Universitas Andalas Khairul Fahmi.

Padahal, menurut dia, PDIP dan Jokowi sebenarnya memiliki hubungan sama-sama menguntungkan. "Jokowi tidak akan jadi presiden kalau tidak ada PDIP, betul. Begitu pun sebaliknya, PDIP juga diuntungkan dengan keberadaan Jokowi. Karena dengan mengusung Jokowi, PDIP bisa kembali berkuasa."

Adapun Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menyebut Ketua Umum PDIP tengah mengalami surplus kepercayaan diri. Menurutnya, Megawati seakan menunjukkan punya kekuatan politik lebih besar dan mengeklaim kekuatan itu sebagai penentu terpilihnya Jokowi sebagai presiden.

Guru Besar Ilmu Filsafat Universitas Pelita Harapan F Budi Hardiman menilai pernyataan yang dilontarkan Megawati, yang terkesan meremehkan Presiden Jokowi, secara etis tidaklah tepat. Apa yang disampaikan Megawati tersebut, kata Budi, memperlihatkan perlunya etiket dan etika dalam interaksi politik."Kader partai sekalipun yang menang dalam pilpres telah berubah status, fungsi, dan substansinya menjadi kepala negara, dengan segala martabat dan kehormatan yang disandangnya,"


Pakar hukum Universitas Jember Aries Harianto menyayangkan ekspresi arogansi seorang pimpinan partai politik yang tak menjunjung nilai-nilai etika berpolitik.

"Presiden seolah subordinat PDIP. Dengan klaim semacam ini, dapat dimaknai bahwa Presiden harus tunduk secara absolut pada PDIP, bukan pada konstitusi atau aspirasi rakyat yang dipimpinnya,"

Eks deklarator PAN, Abdilah Toha, melalui kicauan di Twitter mengatakan, Megawati telah meremehkan orang lain termasuk kepala negara. "Profesor Megawati. Pada ultah PDIP ke 50, hampir seluruhnya memuji dirinya, sambil meremehkan orang lain termasuk kepala negara kita yg hadir. Juga berkali-kali memerintahkan hadirin bertepuk tangan. Nasib negeri ini punya pemimpin sebuah partai terbesar yang tidak pernah diganti,"

itulah anggapan-anggapan dari para akademisi tersebut tentang perkataan megawati tadi. Adapula kata-kata dari sejumlah mantan pemimpin negara yang mengingatkan perlunya pembatasan antara loyalitas ke partai politik dan negara. Salah satunya adalah “my loyalty to my party ends when my loyalty to my country begins”.

Yang mana seharusnya presiden selagi di negara indonesia itu adalah kepala negara. Jadi sudah seharusnya ia di tempatkan di posisi yang terhormat. Kalau seseorang  sudah terpilih menjadi presiden tentunya harus di hormati dan di akui oleh seluruh warga negara.

Apakah dengan mengungkit-ungkit peran diri sendiri dalam pencalonan atau mengingatkan posisi petugas partai terhadap seorang kepala negara mencerminkan menghormati kepala negara?

Jadi kesimpulan nya adalah ada dalam Q.S Al-Baqarah ayat 262 yang artinya “orang-orang yang menginfakkan harta mereka di jalan allah, kemudian tidak mengungkit-ungkit apa yang mereka infakkan itu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), bagi mereka pahala di sisi tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih”. Akan tetapi pembahasan di sini bukan tentang infak melainkan tentang kebaikan.

Jika kebaikan kita kepada orang lain selalu di ungkit-ungkit maka yang terjadi

1.     Menimbulkan rasa tidak nyaman atau malu

Beberapa orang mungkin merasa tidak nyaman jika kebaikan yang di berikan kepada mereka di ungkit terus menerus.

2.     Merusak niat baik

Jika kebaikan di ungkit terus menerus, maka bisa jadi niat baik yang awalnya baik menjadi tidak baik, karena seakan-akan kita baik kalau lagi ada maunya sama orang.

Oleh karena itu, sebaiknya kita tidak mengungkit-ungkit kebaikan yang kita berikan kepada orang lain. Kebaikan yang di lakukan seharusnya di lakukan dengan tulus dan ikhlas tanpa mengharapkan balasan atau pujian dari orang lain.

Komentar